Training For Trainer : Pelatihan Baca Quran

Training For Trainer : Pelatihan Baca Quran
79 / 100 SEO Score
Pelatihan Baca Quran
Pelatihan Baca Quran

Akhir Pekan lalu, Rubaiyat Indonesia atas izin dari Allah menyelenggarakan TFT Certified yang ke tiga, Pelatihan baca Quran dengan metode Rubaiyat. Diikuti oleh 20 guru ngaji dari berbagai kota di Indonesia yang mana sebelum mengikuti acara ini mereka para guru ngaji telah berjihad memberantas buta aksara Al-Quran menyelenggarakan pelatihan baca quran di daerah mereka masing-masing.

Dengan amanah yang diberikan kepada kami ini, maka InsyaAllah kehadiran mereka akan menambah daya juang untuk terus bergerak menyelenggarakan pelatihan baca Quran untuk memberantas buta aksara Al-Quran di Indonesia. Sehingga Umat Islam mampu membaca kitabnya, mempelajari, mengamalkan dan mengajarkannya serta yang paling penting adalah umat Islam kembali memiliki hubungan erat dengan Al-Quran, menjadikannya sebagai solusi atas berbagai permasalahan yang mendera pribadi,keluarga maupun Negara.

Dari Certified trainer ini, semoga kedepan kami bisa segera bisa hadir menyelenggarakan pelatihan baca Quran di berbagai kota di Indonesia

65 Persen Masyarakat Indonesia Buta Huruf Alquran

Mengutip sebuah artikel Republika.co.id di Tingkat buta huruf Alquran di Indonesia terbilang tinggi. Hasil riset dari Institut Ilmu Alquran (IIQ) akhir pekan lalu mencatat sekitar 65 persen masyarakat Indonesia buta huruf Alquran.

Dewan Dawah Islamiyah Indonesia (DDI) menilai, permasalahan tersebut harus menjadi perhatian bagi semua kalangan. “Sungguh sangat mengejutkan dan perlu dibahas dalam penyusunan program Dewan Dawah di tingkat Kabupaten/Kota bahkan Kecamatan,” ujar Ketua DDI, Mohammad Siddik kepada Republika.co.id, Jakarta, Rabu (17/1).

Menurutnya, program tersebut harus melibatkan ratusan dai Dewan Dakwah di Indonesia. Usaha pengentasan buta huruf Alquran ini perlu diadakan secara massif dengan kerjasama organisasi dakwah serta takmir masjid.

“Kami harap himbauan ini menjadi pertimbangan dalam merevisi program di wilayah kabupaten, kota dan kecamatan,” ucapnya.

Direktur Jenderal Bimbingan Masyarakat (Bimas) Islam Kementerian Agama (Kemenag) RI, Machasin, menilai, untuk mengatasi hal itu diperlukan peran aktif masyarakat. Pemerintah, kata dia, hanya sebatas memfasilitasi. Sebab, membaca quran tidak seperti ibadah besar semisal haji, yang penyelenggaraannya wajib dan rutin.

Machasin mengatakan, salah satu cara dari Kemenag untuk meningkatkan tingkat melek Alquran adalah pencanangan program Gerakan Masyarakat Maghrib Mengaji (Gemar Mengaji). Program tersebut terinspirasi dari budaya sebagian besar masyarakat Muslim di Indonesia tempo dulu, yang kerap melakukan amalan tadarus Alquran tiap bada shalat Maghrib.

Adapun gerakan Gemar Mengaji pertama kali dideklarasikan oleh Menteri Agama RI, Suryadharma Ali, di Jakarta pada 26 September 2012. Kemenag mencanangkan program Gemar Mengaji bagi seluruh provinsi serta kabupaten/kota di Indonesia.

Harapannya, masyarakat akan kembali terbiasa dengan budaya mengaji Alquran tiap sesudah melaksanakan shalat Maghrib. Ini dilakukan baik di masjid, rumah, sekolah, maupun kantor instansi swasta atau pemerintah. “Program ini sudah dan sedang berjalan. Jadi, bukan seremonial,” kata Machasin

Buta Aksara Alquran Tinggi, Ini Penyebabnya.

Tingginya angka itu terutama terdapat di daerah pedesaan atau di wilayah pelosok. Demikian diungkap Rektor Perguruan Tinggi Istitut Ilmu Alquran (PTIIQ) Jakarta, Prof Nazaruddin Umar, belum lama ini. Menanggapi itu, Dirjen Bimas Islam Kementerian Agama (Kemenag) RI Muhammadiyah Amin mengatakan, bahwa tidak semua daerah di Indonesia memiliki tingkat buta aksara Alquran yang masih tinggi. Namun, memang tingginya jumlah tersebut terjadi di daerah tertentu atau di wilayah pelosok.

Muhammadiyah lantas menuturkan penyebab masih tingginya jumlah buta aksara Alquran di wilayah pelosok. Salah satunya, belum banyak hafiz Alquran yang menyentuh hingga wilayah pelosok untuk mengajarkan Alquran.

Umumnya, kata dia, para hafiz Alquran tidak kembali ke kampung halaman mereka untuk mengajar Alquran setelah menjadi penghafal Alquran di kota. Alasan ekonomi ataupun upah yang kecil, bisa jadi alasan mereka tidak kembali ke kampung.

Di samping itu, menurutnya, biasanya penghafal Alquran mendapatkan tempat atau masjid di kota yang ditempati untuk dia menjadi imam di sana. “Hal inilah yang menyebabkan tidak adanya generasi yang bisa mengajarkan Alquran. Umumnya, yang masih ada di kampung adalah guru mengaji tradisional atau para orang tua yang mengajarkan mengaji,” kata Muhammadiyah, saat dihubungi Republika.co.id, Kamis (18/1).

Namun jika tidak ada guru mengaji, biasanya anak-anak akan pulang ke rumah dan tidur. Sedangkan orang tuanya, kata Muhammadiyah, juga tidak bisa mengajarkan mengaji. Hal inilah yang menjadi salah satu tantangan yang dihadapi masyarakat Islam saat ini.

Muhammadiyah mengatakan, tidak seimbangnya antara jumlah penyuluh agama Islam dan guru-guru TPA dengan pengetahuan dasar Alquran dengan jumlah masyarakat Islam di Indonesia. Salah satu fungsi penyuluh agama adalah untuk mengajarkan mengaji.

Dia mengatakan, anak-anak yang sudah seharusnya mengaji, tidak masuk pada posisi untuk belajar mengaji lantaran tidak ada guru di sana. “Inilah kemudian yang menjadi perjuangan Kemenag, khususnya bimas Islam, untuk menambah jumlah penyuluh agama dalam hal pemberantasan buta aksara Alquran,” lanjutnya.

Terkait hal ini, Muhammadiyah mengatakan, Kemenag sudah memiliki kebijakan untuk menempatkan delapan penyuluh agama di setiap kecamatan. Namun yang menjadi masalah, adapula dalam satu kecamatan yang memiliki lebih dari 10 desa. Sehingga, ada desa yang tidak tersentuh oleh penyuluh agama untuk mengajarkan Alquran.

“Karena itu, yang menjadi tantangan Kemenag adalah masih banyak dibutuhkannya jumlah penyuluh agama. Terutama, bidang yang menangani pemberantasan buta aksara Alquran,” katanya.

Kemenag, dikatakannya, melakukan perekruitan penyuluh agama dengan anggaran yang bisa ditampung. Karena anggaran yang sangat kecil, jumlah penyuluh agama terpaksa dikurangi dari 75.313 orang menjadi 45 ribu orang.

Pengurangan itu, menurutnya, dilakukan karena honor penyuluh agama yang dinaikkan oleh Kemenag. Sebelumnya, penyuluh agama Kemenag diberikan honor hanya sebesar Rp 300 ribu per bulan. Angka itu kemudian dinaikkan menjadi Rp 500 ribu per bulan.

“Padahal, dibutuhkan banyak penyuluh agama. Penyuluh agama hanya berjumlah 45 ribu orang. Sedangkan umat Islam di Indonesia berjumlah sekitar 217 juta,” ujarnya.

Dalam hal ini, Kemenag terus berjuang di Komisi 8 DPR untuk menambah jumlah penyuluh agama dan meningkatkan honor mereka dari Rp 500 ribu paling tidak menjadi Rp 1 juta. Selain itu, Muhammadiyah mengatakan, buta aksara Alquran bisa disebabkan karena kurangnya mushaf yang diproduksi oleh pemerintah. Meskipun, ia mengatakan, bahwa penyebabnya karena hal ini tidaklah signifikan.

Dia mengatakan, kurangnya mushaf yang diedarkan oleh Kemenag bisa dimaklumi. Karena pada 2015, percetakan Alquran milik Kemenag berhenti beroperasi sejak diresmikannya pada 2008. Pada 2016, Kemenag hanya mencetak 35 ribu Alquran. Sedangkan tahun ini, Kemenag mencetak 170 ribu Alquran.

Keterbatasan tersebut, menurutnya, karena terkait dengan anggaran. Meskipun umumnya masyarakat membeli sendiri mushaf Alquran. Namun tentu saja, Muhammadiyah mengatakan Kemenag akan memperbanyak jumlah cetakan Alquran. Apalagi, kini Kemenag sudah memiliki percetakan Alquran sendiri di Ciawi, Bogor. Pada 2016, Menag Lukman Hakim Saifuddin tidak lagi melelang percetakan Alquran.

“Terkait ini, Kemenag membutuhkan dana tambahan untuk menambah jumlah penyuluh agama dan untuk mencetak mushaf Alquran yang lebih banyak,” ujarnya.

Training for Trainer Pelatihan Baca Quran sebagai salahsatu solusi

salahsatu terobosan yang kami lakukan adalah dengan menyelenggarakan TFT Guru Baca Quran dengan metode Rubaiyat, seperti yang kita ketahui bersama, banyak sekali metode baca quran di Indonesia, salahsatunya adalah Rubaiyat yang juga cukup populer di Indonesia, namun masih kekurangan guru yang mengajarkan quran dengan metode ini, oleh karena itulah mengapa TFT ini diselenggarakan, harapannya kedepan semakin banyak guru Quran yang menggunakan metode Rubaiyat.

Dengan demikian maka muslim indonesia bisa segera terbebas dari buta huruf quran. Amin,,,

Baca Juga : Rubaiyat, Belajar Quran metode 4 jam

Tonton : Testimony TFT Rubaiyat


Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *